Katak Mampu Mengusir Kelelawar

Manisnya buah rambutan ternyata mampu mengundang perhatian kelelawar. Tetapi sekarang kelelawar tidak lagi bisa menyantapnya dengan leluasa karena bangkai katak telah menghilangkan selera makannya.

Rambutan sudah tidak lagi asing di telinga kita karena buah tersebut bisa dijumpai dan dinikmati oleh siapa saja. Buah yang satu ini memang lain daripada yang lain dan uniknya buah ini memiliki bentuk bulat, berambut dan berwarna merah. Terkadang buah ini sering disebut orang sebagai lecci rambut. Rambutan merupakan tanaman dataran rendah yang tumbuh di tempat terbuka, tetapi tanaman ini cukup toleran terhadap naungan. Tinggi pohonnya bisa mencapai 15 sampai 25 meter.

Saat ini jenis buah rambutan yang banyak dibudidayakan adalah lebak bulus, binjae, tangkue, rapiah dan garuda. Buah yang memiliki nama latin Nephellium lappaceum ini memang sudah menjadi icon tersendiri terutama untuk Kabupaten Blitar. Seperti halnya di Desa Pagerwojo, Kesamben Blitar, di daerah ini hampir disetiap rumah penduduk terdapat tanaman rambutan. Musim buah tanaman ini terjadi pada bulan November, Desember, Januari Sampai Februari.

Budidaya Rambutan Di Desa Pegerwojo, Kesamben Blitar pada awalnya merupakan program dari pemerintah sejak 6 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1997, 1998, 1999, dan 2000. “Pada saat itu pemerintah membagikan dua buah bibit rambutan kepada setiap kepala keluarga dengan tujuan untuk meningkatkan income penduduk setempat”, demikian penjelasan Agus Susilo sekretaris Desa Pagerwojo.

Pemangsa Rambutan yang Meresahkan Kelelawar merupakan hama utama pada tanaman rambutan. Hama ini menyerang pada daerah yang jauh dengan pemukiman penduduk dan biasanya dekat dengan hutan. Padadaerah ini petani harus berusaha keras mengendalikan serangan kelelawar atau konsekuensinya petani tidak akan menikmati produksi tanaman ini. Tingkat serangan kelelawar yang paling besar terjadi pada saat panen diluar musim buah, karena buah rambutan belum banyak tersedia di daerah ini.

Hal ini dibenarkan oleh Budiono yang menuturkan bahwa “tingkat serangan yang paling parah bisa mencapai 30 kg semalam. Akan tetapi pada musim rambutan seperti sekarang ini tingkat serangan masih cukup rendah”. Budiono juga menambahkan,” jenis rambutan yang paling disukai oleh hama ini adalah binjai susu yang memilki rasa yang lebih manis dibandingkan binjai biasa”. Bangkai Katak untuk Mengendalikan Kelelawar Penggunaan bangkai katak untuk mengendalikan kelelawar sudah lama dikenal masyarakat di desa Pegerwojo.

Pada awalnya para petani tersebut mengendalikan serangan kelelawar dengan menggunakan sejenis racun. Petani tersebut tidak sengaja menggunakan bangkai kelelawar yang mati setelah memakan buah pisang yang diberi racun. Kemudian bangkai tersebut di pasang di atas pohon rambutan. Ternyata setelah kelelawar tersebut menjadi bangkai dan berbau busuk, kelelawar yang lain enggan untuk mendekati pohon tersebut. Hal itulah yang membuat petani untuk menggunakan bangkai katak dalampengendalian hama ini.

Sebenarnya tidak hanya bangkai katak saja yang dapat digunakan untuk mengendalikan kelelawar. Bangkai ikan maupun kelelawar juga bisa digunakan asalkan mengeluarkan bau yang menyengat. Akan tetapi pengendalian dengan menggunakan bangkai ikan membutuhkan biaya yang cukup mahal.” Untuk mengendalikan kelelawar pada lahan yang memiliki 26 pohon rambutan diperlukan biaya antara Rp.150.000 sampai Rp. 250.000” tutur Budiono. Sedangkan untuk bangkai kelelawar sebenarnya paling efektif dalam mengendalikan hama yang satu ini. Akan tetapi petani mengalami kesulitan untuk mendapatkan bangkai kelelawar. Hal ini tentu sangat jauh berbeda apabila dibandingkan dengan menggunakan bangkai katak.

Karena di desa Pagerwojo banyak terdapat katak-katak yang berkeliaran menjelang musim penghujan seperti sekarang ini. Hal itulah yang menyebabkan kenapa petani cenderung memilih bangkai katak ini, karena selain tanpa biaya penggunaan bau bangkai katak juga lebih kuat dan tahan lama dari pada bangkai ikan. Cukup Digantung dan Kelelawarpun Pergi Prinsip utama dalam pemanfaatan bangkai katak untuk mengedalikan kelelawar bersumber pada bau busuk yang dikeluarkannya.

Daya tahan bau bangkai katak berkisar antara tiga sampai empat hari. Oleh karenanya Sistem pertanian yang diterapkan oleh petani selama ini adalah model pertanian warisan secara turun temurun dari petani terdahulu. Sistem pertanian tersebut kebanyakan masih menggunakan sistem pertanian yang konvensional. Adanya sitem ini dikarenakan terbatasnya ilmu dan teknologi serta kurang tersedianya bagi petani. Melihat kondisi pertanian saat ini sistem tersebut sudah tidak relevan untuk dipakai lagi.

Batu sebagai kota Agropolitan yakni kota yang berbasis pertanian perlu ditingkatkan dari mutu dan produksinya. Permintaan produksi pertanian yang meningkat perlu diimbangi dengan kondisi dari kualitas lahan dan tingkat sumber daya petaninya. Selama ini sumbangan sektor pertanian terhadap pendapatan daerah kota Batu sangat besar. Hal ini bisa dilihat dari hasil penjualan apel dan produk hortikultura lain yang memberikan pemasukan kota yang cukup besar.

Sekolah Pertanian DI gratis ini bermula dari gagasan Wali Kota Batu Drs.Imam Kabul bersama Tatik Wardiyati dosen Pertanian Unibraw yang saat itu sedang meninjau lokasi pertanian di Kota Batu. Melihat kondisi pertanian Batu yang semakin lama dirasa produktivitasnya semakin menurun, muncul ide untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara meningkatkan input petani itu sendiri. Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan menambah pengetahuan petani dibidangnya. Untuk pertama kalinya sekolah ini diadakan di Kota Batu dan juga merupakan pertama kalinya ada di Indonesia.

Kota Batu merupakan kota yang sudah dikenal orang sebagai penghasil produksi buah dan sayur. Dari hasil produksi buah dan sayur tersebut mampu memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi daerah. Maka ide untuk meningkatkan input petani tersebut adalah dengan mendirikan Sekolah Pertanian yang berbasis pada pengembangan buahbuahan, tanaman hias dan sayuran kemudian dinamakan dengan Sekolah Pertanian D1 hortikultura.

Program Baru Sekolah Pertanian D1 Hortikultura ini didirikan pada pertengahan tahun 2006 dan sampai saat ini sudah berjalan kurang lebih enam bulan. Sekolah ini merupakan bentuk kerjasama antara Universitas Brawijaya dengan Dinas Pertanian Kota Batu. Untuk mendukung program ini, pemerintah Kota Batu telah menganggarkan dana sebesar 3% dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). “Dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan sekolah ini adalah sebesar 400 juta rupiah” ungkap Tatik.  Beliau juga menambahkan dana sebesar itu dianggarkan selama satu tahun. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan kuliah, orientasi mahasiswa, pengadaan praktikum, honor dosen pengajar, dan honor koordinatorm praktikum.

Dalam pelaksanaanya, sekolah gratis ini belum mempunyai gedung setelah empat hari bangkai katak harus segera diganti dengan yang baru. Hal ini perlu dilakukan agar bau yang dikeluarkan oleh bangkai katak tidak hilang sehingga kelelawar-kelelawar pemakan buah rambutan tidak kembali datang menyerang.

Tidak ada metode khusus dalam menggunakan bangkai katak ini. Katak yang sudah menjadi bangkai cukup diletakkan di dalam keranjang. Satu keranjang bisa tiga sampai empat bangkai. Selanjutnya keranjang diikat dengan tali untuk menggantungkannya diatas pohon yang sedang berbuah. Pada setiap satu pohon buah rambutan biasanya diberi dua sampai empat keranjang yang berisi bangkai katak.

Lama pemasangan bangkai katak di atas pohon rambutan dimulai sejak buah mulai memasuki fase dewasa (menguning) sampai menjelang panen.Salah satu kendala bagi petani rambutan dalam penggunaan bangkai katak ini adalah bau busuk yang sangat mengganggu lingkungan disekitarnya. Biasanya setelah diberi bangkai, petani enggan datang ke kebunnya karena tidak tahan dengan bau busuk. Budiono menjelaskan” saat menjelang panen, yakni dua sampai tiga jam sebelum buah dipanen, keranjang yang berisi bangkai katak segera diturunkan dari pohon, kalau tidak petani tidak tahan dengan bau  yang dikeluarkannya”.

Pengendalian kelelawar dengan bangkai katak ini dapat dijadikan acuan bagi petani rambutan lainnya. Pengendalian hama tidak selamanya mengharuskan menggunakan bahan kimia yang tidak lagi ramah terhadap lingkungan. Tetapi lebih dari itu, pengendalian hama yang efektif adalah pengendalian dengan tetap memperhatikan keseimbangan ling-kungan sekitar.

Ria   (Majalah CANOPY edisi 52)