Hilangnya Realita Dunia Pendidikan

Oleh : Endra Saputra*

Pernahkah kita melihat bahwa suatu hal itu memang benar adanya. Bagai angan menggembar- gemborkan kebebasan untuk menjadi manusia yang tidak terjajah dan kesetaraan dengan manusia yang beradab. Dengan ilmu dan pengetahuan harapan akan kebebasan dan kesetaran bisa diwujudkan.

Sama seperti dunia pendidikan saat ini yang kehilangan jati dirinya, yang tidak pernah menunjukkan tujuan sesunguhnya. Dengan tujuan ingin membentuk kesadaran dan kemerdekaan, tetapi yang diwujudkan hanya sebuah kebebasan dalam kekangan. Kebebasan berfikir yang ditawarkan dunia pendidikan secara rasional hanyalah gambaran semu dimana sistem yang berjalan hanyalah menawarakan pendidikan praktis.

Bagaimana tidak, paradigma yang berkembang pada peserta didik ternyata belajar untuk mengikuti ujian, lulus ujian untuk mendapatkan nilai dan nilai yang tertuang dalam selembar kertas sebagai tumpuan masa depan. Jadi yang tampak adalah dunia sekolah sampai universitas tidak lebih dari dunia simulacra. Simulacra adalah tempat simulasi segala realitas yang diperagakan tetapi bukan menjadi realita itu.

Gambar ini diambil dari http://achmadmauludi.blogspot.com/2010/04/gambar-karikatur-doktrinisasi.html

Inilah dunia pendidikan, dimana yang terjadi hanya simulasi kehidupan belajar mengajar tanpa esensi pendidikan yang dibentuk dari tujuan awalnya. Yaitu belajar itu untuk mendapat ilmu dan menyelesaikan masalah dilingkungan masyarakatnya. Sistem berjenjang yang diterapkan dalam sistem pendidikan negara ini menjadi sangat saklek dan harus dijalankan apa adanya sehingga terkesan hanya menunaikan syarat tanpa memahami kenapa harus melewati jenjang tersebut.

Jenjang sekolah dasar sampai universitas hanya menjamin ijasah dengan predikat lulus saja, tetapi benarkah isi kertas yang disebut ijasah itu mengimplementasikan keintelektualan pemiliknya, lalu bagaimana kecerdasan moral dan spritualnya. Padahal fenomena kecurangan yang ada di ujian akhir nasional yang didalangi oleh guru sendiri kerap terjadi, bagaimana nilai dalam ijasah dapat dijadikan parameter yang sangat menentukan banyak hal.

Pendidikan yang ditanamkan pada peserta didik terkadang bertentangan dengan tujuan pendidikan. Hal ini dapat dilihat pada saat peserta didik mendekati ujian akhir nasional atau ingin mengikuti ujian masuk universitas, diadakan bimbingan belajar ekstra khusus materi ujian, dan bukan materi yang lain. Bukan hanya ini yang patut dikritisi bahkan yang lebih parah lagi proses pembelajaran yang dilakukan hanya berorientasi pada bagaimana menjawab soal sebanyak-banyaknya dengan cara praktis seperti halnya smart solution, tanpa lebih lanjut mengkritisi jawaban.

Padahal yang diharapkan dunia pendidikan atau dunia akademis adalah bagaimana berfikir kritis dan sistematis terhadap semua permasalahan. Memang ini menjadi solusi praktis dan sangat miris untuk disaksikan saat ini. Apa sebenarnya yang diharapkan dengan sistem seperti ini, apakah hanya akan membentuk manusia praktis dan pragmatis. Ya… inilah yang dihasilkan dari proses simulasi.

Simulasi dalam dunia pendidikan ini tidak menjanjikan apa-apa, bukan realitas sejati yang berjalan tetapi hal-hal semu yang dilakukan asal telah memenuhi syarat yang diajukan. Karena simulasi hanyalah gambaran tidak asli (hanya peragaan) dari unit-unit kegiatan yang ada pada dunia nyata untuk membuat realitas semu yang diinginkan.

Seperti bagaimana seorang astronot sebelum pergi ke angkasa luar melakuakn simulasi yang mirip keadan yang akan terjadi nanti tetapi simulasi yang dilakukan itu tetap bukan realitas sesunguhnya.  Yang diperlukan dalam simulasi hanyalah bagimana unit-unit sesuai berjalan dengan ketentuan tampa harus melihat yang lain. Seperti suatu asumsi korelasi antar faktor yang saling terkait dimana semakin tinggi satu faktor maka akan mempengaruhi faktor lain yang dianggap berhubungan.

Sayangnya yang menjadi patokan di dunia pendidikan ini adalah nilai yang  mudah dimanipulasi atau sering dikatakan sebagai nilai katrolan. Dan sering juga nilai yang di dapat tidak dapat di pertangungjawabkan. Kata yang sering terlontar dan tanpa kita sadari ternyata menjadi landasan bawah sadar kita adalah “ah hanya syarat bisa di atur”. Inilah simulasi yang ada di dalam dunia pendidikan dan tanpa sadar kita lakukan bersama- sama dalam satu sistem yang disepakati.

Seharusnya dalam dunia pendidikaan saat ini perlu keberanian untuk jujur dalam melakukan tindakan yang memang sudah seharusnya. Atau bisa  dikatakan siapa yang memiliki kemampuan dan kemauan, dialah yang memiliki kesempatan untuk terus mendapatkan ilmu lebih banyak. Jadi bukan hanya menjalankan syarat tanpa tahu maknanya. Akan tetapi, hal ini harus menjadi kesadaran bersama, terutama kesadaran pembuat sistem untuk tidak mengarahkan tujuan pendidikan ini ke tujuan yang semu.

*Penulis adalah mahasiswa
Pemuliaan Tanaman 2003
Dunia Pendidikan