Musik Cerdas?

Gambar diambil dari http://musictherapy247.org/

Ketika manusia dinilai dari kecerdasannya, akan muncul segala aspek yang dapat memicunya. Musik, terutama musik klasik, banyak diagungkan masyarakat sebagai pemacu cerdas. Namun saat ini musik klasik sudah tidak berfungsi.

Memiliki anak dengan tingkat intelejensi yang melebihi batas rata-rata pada umumnya adalah menjadi kebanggaan tersendiri bagi para orang tua. Paradigma yang beredar dalam masyarakat adalah musik Mozart yang beraliran klasik menjadi pilihan ‘mati’ untuk mewujudkan impian menjadi cerdas. Tak dipungkiri dalam kehidupan pasar modernitas ini beredar selalu kaset Mozart dengan iming-iming didapatkan kecerdasan. Mozart dengan musik digubah untuk mampu menciptakan kecerdasan, padahal secara fakta, musik dapat sebagai penenang jiwa.

Tidak berfungsinya Mozart
Ketidakmampuan siswa sekolah dalam memecahkan masalah spasial temporal setelah didengarkan Sonata D Mayor untuk 2 piano karya Mozart selama 10 menit dapat disimpulkan bahwa musik Mozart tidak memberikan efek. Ini merupakan hasil penelitian Rauscher dan Shaw (1993), dimana efek yang timbul
hanya berkisar 10-15 menit dan untuk penyelesaian aspek inteligensinya tidak mampu. Namun secara general, m a s y a r a k a t telah terparadigmakan bahwa musik Mozart mampu untuk mencerdaskan pola pikir manusia.

Kemudian berkembang ditahun 1994, oleh Newman, dkk dalam tingkatan test intelejensian, menunjukkan skor yang lebih rendah untuk anak pendengar musik Mozart, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendengarkan musik Mozart. Dari kedua fakta yang ditunjukkan oleh peneliti, menggugurkan teori pendengar musik Mozart mampu meningkatkan tingkat kecerdasan pada manusia, yang dapat dikembangkan mulai dari dalam janin hingga tingkat kedewasaan.

Berbicara masalah jalur cerdas dalam dunia psikologi, yaitu dunia dengan disiplin ilmu akan kepemahaman kehidupan menunjukkan istilah cerdas dapat diartikan mampu menyelesaikan permasalahan dengan kemampuan kreatifitas ataupun diluar alur yang biasa dilakukan manusia semestinya. Dalam pencapaiannya cukup berbeda. Untuk mencapai menjadi cerdas, seseorang dapat harus melalui sebuh proses dalam kehidupannya dengan menyeimbangkan antara otak kanan dan otak kiri, dan ini bisa dibilang berhubungan dengan aspek intelejensinya.

Kecerdasan terbagi menjadi dua, yaitu single intelejensi yaitu kemampuan akan penguasaan akan ilmu yang didapat dari bangku sekolah atau pendidikan formal, dan yang kedua yaitu multi intelejensi, dimana terbagi menjadi empat yang mempengaruhi yaitu, single inteligensi, humor, spiritual dan spasial (bakat alam). Kepribadian juga terbagi menjadi dua, yaitu introvert dengan ciri termasuk orang yang menutup diri dan ekstrovert yaitu orang yang mampu terbuka. Jika kedua hal ini imbang, tiap individu manusia akan dapat survive dalam menempuh kehidupan, termasuk kemampuan dalam menjalani kehidupan.

Sejarah Musik Mozart
Mozart dengan nama lengkap Wolfgang Amadeus Mozart merupakan pencipta musik kalsik dengan berbagai syair, struktur, melodi yang handal. Terlahir 252 tahun yang lalu, Mozart terlahir dengan bakat yang besar di dunia musik. Mozart menutup mata di usia 35 tahun, dengan menghasilkan karya dalam konser piano berjudul simfoni no 17 dalam G major, no 20 dalam D, dan no 21 dalam C major.

Terlalu seringnya permasalahan latar belakang kreatornya menjadi bahan kajian para ahli, menciptakan bahwa dengan mendengarkan efek Mozart dianggap mampu memberikan nilai positif bagi kinerja otak. Musik Mozart memberikan efek ke seluruh dunia hingga efek Mozart menjadi trend dan mode yang dipercaya sekaligus dikagumi adalah Don Campbell. Disinyalir, hal tersebut tidak sekedar sensasi ilmu pengetahuan, melainkan telah berkembang ke bisnis dan industri popularitas.

Hasil penelitian menunjukkan struktur musik Mozart sama dengan pola otak manusia. Sehingga efek Mozart dipercaya sebagai stimulan yang ampuh untuk mencerdasakan janin dalam kandungan ketika ibu yang sedang hamil diperdengarkan musik Mozart. Dan berkembang menjadi endemik atau mode yang dipercayai mampu meningkatkan kecerdasan bayi dan anak oleh sebagian pendidik musik dan masyarakat di berbagai Negara, termasuk Indonesia.

Mengutip dari pendapat Grace Sudargo , seorang musisi dan pendidik, dalam situs psikologi, mengatakan bahwa dasardasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia sehingga musik berperan dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik klasik yang mengandung komposisi nada tinggi dan nada rendah dapat merangsang kuadran C pada otak. Sampai usia 4 tahun, kuadran B dan C pada otak anak-anak akan berkembang hingga 80% dengan musik.

Menurut penelitian Suzuki (1987) yang dikutip dalam sebuah artikel menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dalam suasana musik Mozart sejak dini, jiwa Mozart yang penuh kasih sayang akan tumbuh juga dalam dirinya. Mendengar alunan musik yang tenang, jantung si janin berdenyut dengan tenang. Jenis musik ini terbukti efektif dalam menstimulasi perkembangan otak belahan kanan. Untuk memacu belahan otak kiri yang bertanggung jawab terhadap kemampuan akademik, musik yang dipilih bukan Mozart melainkan musik dengan jenis lagu yang bersyair.

“ Hasil penelitian di suatu tempat dengan sampel tertentu, tidak dapat diterapkan pada kondisi psikologis manusia lainnya, karena memang kondisi tiap manusia berbeda. Terlebih faktor lingkungan sangat mempengaruhi, untuk itu, jangan langsung memaknai semua hasil penelitian, dilihat terlebih dahulu kondisi selama penelitian dan terutama sampelnya. Kan kondisi psikologis orang dewasa tidak dapat disamakan dengan anak-anak” terang Dra. Atik Sudjiwanati, SH, M.Pd, psikolog.

Musik adalah informasi
Menurut salah satu sumber dari website balita-anda memberikan pendapat bahwa musik berpengaruh dalam kehidupan manusia. Musik memiliki 3 bagian penting yaitu beat, ritme dan harmony. Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa sedangkan harmony mempengaruhi roh. Dicontohkan pengaruh dari beat sangat mempengaharuhi tubuh adalah adanya penonton yang menggerakan tubuhnya dalam konser musik rock. Tubuh seolah bergerak tanpa lelah.

Pengaruh dari ritme sendiri adalah apabila hati kita sedang mengalami kegalauan, dengan mendengarkan irama atau ritme yang teratur, perasaan kita akan terbawa menjadi tenang. Harmony (melodi) sering kita dengar dalam musik pengiring film-film horror, dimana mampu memacu bulu kuduk kita berdiri. Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antar beat, ritme dan harmony.

Berdasarkan hasil penelitian di jepang, menunjukkan bahwa musik merupakan pengstimulasi pengaruh dari luar ke dalam tubuh manusia. Dimana didalam otak manusia terdapat zat cair yaitu neurotransmeter, yang dapat bergerak atau beralih yang dipengaruhi dari luar tubuh manusia tersebut. Perubahan dalam neurotransmeter dipengaruhi oleh musik yang masuk.

Anak-anak yang selalu dijadikan sampel dalam efek pemberian musik, pada dasarnya adalah anak dapat menjadi penerima segala informasi yang diberikan. Dalam artian, secara psikologi, masa-masa kehidupan anakanak adalah masa penerima segala hal yang diberikan kepadanya, yang nantinya apabila informasi itu diterima dalam ingatan otaknya akan berefek dalam kehidupannya. Jika yang diberikan sejak anak-anak dengan sifat jahat, tentu hasilnya akan mengarah ke negatif, jika diajarkan kearah positif, hasilnya pun menjadi positif.

Kondisi diatas, dapat dipengaruhi oleh musik, tapi, tetap hasil akhir yang berimbas dalam kehidupan dipengaruhi oleh lingkungan. “Musik dapat mempengaruhi kemampuan seseorang, tapi tetap yang berpengaruh dalam penentuan kepribadiannya adalah fisik dan psikologis” tegas Atik, psikologi yang membuka praktek di jl. Ciliwung.

Hubungan musik dengan kecerdasan adalah musik sebagai pematik atau stimulan untuk memacu terjadinya kecerdasan. Beragam jenis aliran musik seperti gamelan, keroncong, maupun musik klasik dapat dimanfaatkan. Perubahan yang akan timbul akibat dari pendengaran musik tergantung dari emosi dan lingkungan sang pendengar.

Ketika pemaknaan akan kecerdasan dapat dicapai melalui pendengaran musik Mozart, sehingga Mozart didengungkan sebagai ‘dewa’ pencipta adanya tingkat kecerdasan dalam kehidupan manusia, dengan hasil penelitian yang tidak menunjukkan kebenaran, tentunya sangat dipertanyakan, akankah musik Mozart masih perlu didengarkan untuk meningkatkan kecerdasan otak manusia.

Musik Mozart bukan sebagai musik satu-satunya yang mampu menstimulasi kecerdasan otak, melainkan beragam jenis musik dapat memacu kecerdasan otak. Penilaian dari tiap orang, beranggapan bahwa orang cerdas berarti menjadi makhluk yang paling sempurna. Padahal, secara psikologi, melakukan penilaian terhadap kemampuan seseorang harus dilakukan oleh dua hal penting, yaitu kecerdasan dan kepribadian.

Dinon