Umar Kayam, Pria dengan Sejuta Talenta

Sumber gambar: http://penerbitpinus.com/produk-92-.html

           Demikianlah UK menapaki kehidupan ini yang mana negara ini plural dari segi budaya, bahasa, suku, agama dan ras. Itu semua tidak menjadikan sebagai halangan dalam mewujudkan sebuah karya dan apresiasi yang dibawanya. Pandangan yang dibawanya lebih kepada kearah pluralitas dan kearah realitas yang ada dimasyarakat.

           Umar Kayam (UK), begitulah kebanyakan orang mengenalnya. Pria kelahiran Ngawi 30 April 1932 sudah tidak asing lagi di Indonesia. Banyak prestasi yang sudah ia torehkan dalam berbagai bidang. Ia dikenal sebagai sastrawan, budayawan, sosiolog, kolumnis, mantan pejabat, penulis skenario, dan aktor film. Presiden Bung Karno pernah ia perankan dalam film layar lebar produksi Pusat Film Nasional (PFN) yang berjudul Pengkhianatan G 30 S PKI.

           Dalam menyampaikan kritikan UK menyampaikannya dengan caranya sendiri yakni lewat guyonan dan ledekan. Namun adakalanya UK menerjemahkan dengan gaya bahasa yang disampaikan lewat tulisan maupun ceramahnya.UK menghargai pluralitas dalam dunia informasi yang dicerminkan dalam kebebasan berfikir oleh dunia jurnalistik, intelektualitas dan akademik. Kekuatannya yang lain adalah kemampuannya memandang suatu jagat besar pada suatu soal yang kecil. Ia selalu mencoba melihat sintesa dari berbagai masalah yang penuh konflik.

Kehidupan UK

           Pandangan UK yang cenderung modern dalam membina rumah tangganya itu, ternyata kontradiktif dengan pandangannya dalam menyikapi kemajuan zaman, khususnya teknologi komputer. Meski zaman telah dilanda komputerisasi, Profesor doktor yang pernah menjabat sebagai guru besar di Universiatas Gajah Mada itu enggan meninggalkan mesin ketik manualnya yang kalau dipakai mengeluarkan suara yang dapat mengganggu orang disekitarnya.

           Umar Kayam adalah juga seorang yang gigih memegang prinsip. Jika ia melihat satu tindakan tidak benar, tidak etis, kurang manusiawi, tidak adil, ia tidak segan-segan melawannya. Dengan tegas ia menolak memberi persetujuan tatkala Ginandjar Kartasasmita akan dianugerahi gelar Doktor Honoriscausa. Prof Siti Baroroh Baried almarhum mengatakan bahwa Umar Kayam senantiasa ingin meluruskan yang bengkok. Oleh karena itu, di balik ketenarannya, Umar Kayam banyak menghadapi tantangan.

           Salah satu cerpennya yang berjudul Seribu Kunang-Kunang di Manhattan pernah dinyatakan sebagai cerpen terbaik oleh majalah sastra Horison pada 1968. Cerpen yang pada 1972 dibukukan oleh penerbit Pustaka Jaya itu belakangan disusul oleh sederet karya lain yang juga dibukukan. Misalnya, Sri Sumarah, Bawuk, Mangan Ora Mangan Kumpul dan yang terakhir yang sempat menjadi best seller adalah novelnya yang berjudul Para Priyayi yang diterbitkan Grafiti Pers.

Semangat yang Tak Pernah Padam

           Memang sulit memberi predikat yang pas dalam sebuah kalimat untuk sosok Umar Kayam. Namun Lance Castle, pakar politik asal Australia sebagaimana disampaikan Darmanto Jatman menyebut penulis skenario film Jalur Benang dan Bulu-bulu Cendrawasih (1978) itu sebagai ‘benteng terakhir kebudayaan Indonesia’. Ungkapan itu memang tak berlebihan bila mengingat jasa Umar Kayam yang selalu konsisten terhadap masalah kebudayaan. Pada tahun 1977, Kayam mendirikan Pusat Penelitian Kebudayaan UGM. Dalam lembaga itu, pengajar sosiologi sastra itu giat dan terus-menerus berupaya menjembatani dunia akademi dan dunia non-akademi.

           Tidak aneh bila sosok Umar Kayam sebagai orang Jawa, lebih berperan sebagai sahabat semua lapisan masyarakat dan seniman, ketimbang guru besar yang ditakuti. Banyak wawasan dan kritiknya membuka pandangan orang lain, terutama yang berkaitan dengan sastra, film atau masalah budaya meskipun ia seorang birokrat, ia selalu tidak lupa dan mengejek kepriyayiannya sendiri. Ia pun tidak canggung berkutat dalam masalah kesenian dengan seniman pedesaan. Bagi Kayam, perkembangan kebudayaan Indonesia modern harus tetap memberikan ruang gerak bagi kebudayaan tradisional. Bagaimana pun bentuknya kebudayaan tradisional dapat mentransformasikan nilai-nilai yang ada pada dirinya ke kebudayaan modern yang akhirnya membentuk nilai kepribadian bangsa.

 

Perjuangannya Dalam Mempertahankan Kebudayaan

           Sebagai seorang seniman dalam dunia perfilman, Umar Kayam melakukan perubahan besar pada sejarah Infrastruktur perfilman Indonesia. Umar kayam telah mendobrak struktur baru pada warna film Indonesia, ide yang ditelorkan oleh UK adalah untuk mendobrak film bioskop lokal yang telah lama mati. Gagasan UK untuk Indonesia yakni harus memproduksi dua jenis film Indonesia yakni film popular tetapi laku dan film bermutu tetapi kurang laku.

           Dilain pihak, Gaya UK sebagai seorang budayawan tak lain pada metode pengkritikannya terhadap pihak-pihak yang berbuat kolusi ditingkatan politisi. Nenurut pandangan  UK bahwa kolusi adalah potret tidak efisiennya birokrasi.Hal itu menurutnya disebabkan karena sistem control dalam birokrasi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua itu tergantung pada moral masing-masing, apabila moralnya lemah meskipun didukung oleh sistem control yang kuat maka tetap saja terjadi penyimpangan. Begitulah kritik UK dalam masalah birokrasi yang kurang beres.

           Menjelang kematianya UK memandang bahwa negeri ini sebagai “salah kedaden”. Ia tidak lagi bisa mempercayai kaum politikus juga pejabatpejabat yang terlibat serta tidak percaya akan adanya revolusi. Namun sayang, bahwasanya apa yang tidak berkenan dalam hatinya tidak sempat tertuang secara utuh dalam karyanya. UK masih membawa semua unek-uneknya dalam memori yang ia bawa kealam lain.

           Akhirnya Pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 70 tahun silam ini wafat pada hari Sabtu, 16 Maret 2002 pukul 07.45 di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC) karena jatuh dan mengalami patah tulang pangkal paha kiri di Jl H Rasuna Said, Jakarta Selatan Kuningan, Jakarta. Seiring dengan berjalannya waktu, semoga karya-karya UK tidak termakan jaman dan lahir Umar-Umar baru yang lebih hebat.

Yanuar