Beasiswa untuk mahasiswa ??

 “Biaya pendidikan yang mahal dan tuntutan zaman modern yang membutuhkan SDM yang mumpuni, membuat para instansi lupa akan adanya mutiara hitam yang perlu diasah. Itulah yang membuat digagasnya ide beasiswa. Beasiswa yang diberikan pun bermacam-macam baik dari segi prestasi maupun dari segi ekonomi keluarga yang benar-benar tidak mampu tetapi berprestasi di bidang akademik


Perguruan Tinggi (PT) merupakan salah satu instansi tempat pendidikan dan pengajaran. Semakin meningkatnya dana pendidikan terutama untuk pendidikan tingkat Universitas menjadikan seleksi tersendiri  untuk masuk Universitas bersangkutan. Tingginya biaya pendidikan tersebut menuntut mahasiswa untuk mencari dana tambahan demi menunjang proses belajar terutama mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Beasiswa menjadi salah satu alternatif bagi mahasiswa untuk membantu mengatasi dana pendidikan yang terus naik. Jumlah mahasiswa yang mengajukan beasiswa pun semakin meningkat dengan meningkatnya jumlah mahasiswa baru.

Secara umum terdapat dua jenis beasiswa yang ditawarkan dibedakan menurut sumber dana, yang pertama beasiswa dari pemerintah yang dinaungi Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti) dan beasiswa dari instansi lain seperti Bank atau Perusahaan Umum (PERUM). Untuk panitia pelaksana dan seleksi semua dari pihak Universitas. “Pihak Fakultas hanya sebagai pelaksana dan penyalur. Untuk seleksi itu di pihak Universitas kita (Fakultas. red) hanya mendata saja.” Seperti dikemukakan Dr. Ir. Budi Prasetya, MS selaku Pembantu Dekan III (PD III) Fakultas Pertanian (FP) Universitas Brawijaya (UB).

Beasiswa yang dianggap mampu mengatasi kesulitan biaya para mahasiswa ternyata sampai sekarang banyak yang belum memenuhi target atau belum tepat sasaran. “Penilaian penerimaan beasiswa tidak terkontrol dengan baik dari pihak-pihak yang berwenang membuat permasalahan ini semakin pelik,” tutur Lingga selaku Staff Advokesma Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FP. Muncul juga masalah tentang penyelewengan penggunaan dana mahasiswa yang digunakan untuk yang tidak semestinya. “Uangnya saya gunakan untuk membayar cicilan sepeda motor,” seperti yang diungkapkan salah satu penerima beasiswa bidik misi yang tidak mau disebutkan identitasnya.

 Program beasiswa semangat karya atau yang lebih dikenal dengan program BESYA merupakan sebuah inovasi yang muncul dari Departemen Advokesma. Inovasi yang diusulkan oleh kabinet sukses bermanfaat BEM FP UB periode 2010-2011 diperuntukkan bagi mahasiswa FP yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan. Besya diartikan sebagai beasiswa dari dan untuk mahasiswa. Program yang telah disosialisasikan pada warga Lembaga Kkedaulatan Mahasiswa (LKM) dikhususkan untuk mahasiswa FP terutama angkatan 2009, 2010 dan 2011. “Yang berhak, terutama angkatan 2011, tapi ada usulan dari teman-teman LKM untuk melibatkan 2009 dan 2010 tetapi sifatnya rekomendasi dari parameter yang sudah disepakati.” Lingga menambahkan.

Pengumpulan sumber dana dilakukan oleh masing–masing ketua kelas. “Sistemnya dilakukan selama 3 bulan dengan asumsi 1 minggu 1 kali penggalangan dana,” terang Anindia  yang juga staff Departemen Advokesma. Program Besya disalurkan dalam bentuk modal dalam usaha mahasiswa. Konsep dari program Besya merupakan konsep wirausaha yang terdiri 2-3 orang dalam 1 kelompok yang didampingi oleh teman-teman LKM PRISMA, BURSA dan BIRO MAHASISWA WIRAUSAHA untuk merencanakan membuat usaha. Aninda juga menambahkan bahwa dengan adanya konsepan seperti ini dapat mengajarkan kepada mahasiswa untuk tidak mengandalkan bantuan saja, tetapi juga untuk meningkatkan potensi dalam berwirausaha.

Cek kelengkapan. Panitia advokasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) saat mengecek kelengkapan administrasi pengajuan beasiswa.

Respon positif dan dukungan penuh ditunjukkan pihak Fakultas melalui Budi. Tim kontrol program Besya dilakukan oleh mahasiswa yang ditunjuk sebagaii panitia, alumni dan juga pengawasan dari PD III secara langsung. “Panitia Besya dibentuk berdasarkan kesukarelaan, tetapi diutamakan dari pengurus BEM dan teman-teman LKM yang ditunjuk untuk mengurus Besya ini,” tegas Anindia. Setiap penerima Besya dibebaskan memilih usaha apa saja sesuai dengan kesanggupan dalam menerima resiko usaha mereka. Sistem untung dan rugi nanti sepenuhnya menjadi tanggung jawab para penerima Besya.

Wacana dan prioritas pengawasan dalam penentuan serta parameter bagi para calon penerima beasiswa perlu diawasi dan didata serta bagaimana kondisi keluarga para calon penerima beasiswa, agar tidak terjadi penyalah-gunaan di kemudian hari.

 

 Olin, Amin