Kelas Bahasa Inggris, Antara “Ada” dan “Tiada”

“Mutiara itu akan tumbuh dengan tetesan air mata terlebih dahulu”

 Berbicara mengenai kuliah di pagi yang masih cukup buta tidak menyurutkan gerak-gerak langkah para anak muda ini untuk menimba ilmu. Keinginan yang sama ada dalam setiap benak-benak itu termasuk dalam benak penulis. Keinginan untuk menjadi lebih baik dan termotivasi untuk belajar lebih banyak dalam berkomunikasi bahasa inggris. Itulah yang mengantar segelintir mahasiswa/i jurusan agribisnis dan agroekoteknologi untuk meninggalkan kelas lama tempat mereka menimba ilmu menuju gerbang kelas baru yang dicipta oleh pihak akademik Fakultas Pertanian. “Kelas Bahasa Inggris”.

Awal yang mengantarkan penulis dan rekannya menuju gerbang kelas baru itu adalah keputusan yang bulat saat masa-masa daftar ulang. Penulis dan rekannya menuliskan nama dalam formulir khusus yang dibuat oleh fakultas untuk mahasiswa/i yang ingin tergabung dalam kelas ciptaan barunya. Terkadang setiap benak bertalu ragu ketika mengecek setiap waktunya dan mengetahui yang mendaftarkan diri dalam kelas tersebut tidak sebanyak yang diduga.

Berkumpulah akhirnya penulis dengan rekannya yang berasal dari kelas yang berbeda dalam satu kelas yang sama di jurusan agribisnis. Kelas yang dalam angan penulis dan rekannya dapat menjadi tempat yang tepat untuk menempa keberanian dan mengasah kemampuan berkomunikasi dan menulis dalam bahasa inggris. Kelas yang dalam bayangan penulis dan rekannya adalah kelas yang sudah diciptakan dalam kondisi berbadan utuh tanpa luka dan cacat.

Di ruangan yang tidak terlalu luas dan minim sirkulasi udara itulah kelas dengan embel-embel “Bahasa Inggris” ini dimulai. Hari pertama kuliah yang jatuh pada tanggal 12 September lalu, penulis melihat pancaran semangat nampak dari setiap wajah yang berada dalam ruangan tersebut.  Semangat untuk menerima konsepan dan cara baru dalam belajar. Sesekali terdengar sayup-sayup suara dari beberapa mahasiswa yang berusaha menjadi pioneer bertutur dalam bahasa inggris. Sumringah semakin nampak dari wajah-wajah yang lainnya, berharap mendapat giliran untuk dapat bertutur dalam bahasa yang sama, sembari menanti datangnya sang dosen.

Dahaga penantian akhirnya terhauskan ketika sang dosen memasuki kelas, namun tidak dengan dahaga harapan dan impian. Dahaga harapan untuk dapat berkomunikasi dan belajar dalam bahasa inggris semakin terasa kering dan mencekat ketika sang dosen berargumen bahwa tidak ada pengkomunikasian sebelumnya mengenai adanya kelas bahasa inggris.  Pancaran semangat yang awalnya terpancar dari wajah-wajah di dalam ruangan ini berganti dengan keredupan, beradu dengan rasa kaget yang menyeruak dari dalam dada. Semakin dipikir dan diperbincangkan semakin tidak jelas esensi dari keberadaan kelas ini.

Hari kedua kuliah, hari ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan, berlalu… berlalu… berpikir… berbincang… berdiskusi… kecewa… menyesal… menyesal… bingung…. Nada-nada seperti itu yang nampak pada raut wajah mahasiswa/i dan penulis selama hari-hari kuliah selanjutnya. Banyak diantaranya yang merindukan suasana bersama para sahabatnya di kelas sebelumnya. “Berharap mendapatkan emas dengan meninggalkan lumbung padi dan yang nampak hanyalah gudang kosong”, peribahasa seperti itulah yang cocok untuk menggambarkan apa yang tengah dirasakan oleh penulis dan rekannya dalam kelas bahasa inggris.  Keberadaan yang diragukan, serta pemikiran-pemikiran dan asumsi bahwa penulis dan rekannya ternyata hanyalah “mahasiswa percobaan”, memberikan semangat tersendiri pada diri penulis dan rekannya.

Jika kelas bahasa inggris ini diposisikan antara ada dan tiada, maka tidak dengan mahasiswa/i yang berada di dalamnya. Penulis dan rekannya tidak berhenti berharap dan bermimpi mengenai terciptanya kelas bahasa inggris yang benar-benar ada. Harapan itu diimplementasikan melalui keberanian dan inisiatif dari penulis dan rekannya untuk selalu berusaha menjadi pioneer dengan menggunakan bahasa inggris dalam percakapan dan tugas-tugas tertulis. Ketika pihak fakultas pertanian tidak memberikan kejelasan dan bersikap tak acuh pada embel-embel keberdaan kelas bahasa inggris ini, maka mahasiswa/i sendirilah yang harus menyuarakan hak akan keberadaannya sebagai bagian kelas tersebut. Tidak hanya diam, namun bertindak dan membuktikan bahwa harapan yang mendatangkan motivasi untuk menumbuhkan semangat perubahan tetap ada dan terus berkembang.

Aure*’2011-09-27

(* Penulis merupakan bagian dari kelas bahasa inggris  jurusan agribisnis 2009)