Pelajaran Berharga dari Rwanda

Sumber gambar : freerepublic.com

Sore itu, di ruang kuliah lantai dua Fakultas Hukum Universitas Brawijaya terdengar  teriakan histeris dari beberapa orang saat melihat aksi pembantaian besar-besaran. Namun begitu aksi pembantaian beserta aksi heroik lainnya tersebut usai, suara aplous pun terdengar.

Eits,  aksi pembantaian dan heroik ini hanyalah sebuah adegan dalam film yang diputar oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manifest dalam even launching majalah. Tema dalam acara launching majalah Manifest edisi ke-39 ini adalah tentang kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM). LPM Manifest mengundang mahasiswa,  khususnya perwakilan dari seluruh LPM Universitas Brawijaya untuk mengikuti acara bedah film Hotel Rwanda. “Film yang kita angkat terkait dengan kejahatan HAM” tutur Ali Mashuda selaku pengganti ketua pelaksana yang berhalangan hadir.

Film Hotel Rwanda yang disutradarai oleh Terry George ini menggambarkan tentang Krisis kemanusiaan yang terjadi di Rwanda pada era 1990-an, dimana saat itu terjadi ketegangan antara suku Hutu dan Tutsi yang membawa kepada perang sipil dimana suku Tutsi dibantai secara massal, yang menewaskan lebih dari 800.000 orang. Peristiwa mengerikan paling berdarah dalam sejarah Afrika. Kelompok Hutu dan Tutsi sendiri pada dasarnya diciptakan pada masa kolonial oleh Belgia. Warga Hutu bercirikan perawakan pendek dan lebih hitam sedangkan orang Tutsi sebaliknya.

Dalam film ini sang sutradara mencoba mengangkat kisah nyata Paul Rusesabagina (yang diperankan oleh Don Cheadle), yang merupakan seorang manajer hotel Sabena Hôtel des Mille Collines. Hotel bertaraf internasional itu kerap didatangi oleh tamu-tamu Eropa dan pejabat tinggi pemerintahan.

Hotel yang awalnya tenang dan nyaman mulai mencekam akibat semakin panasnya konflik antara kelompok Hutu dan Tutsi. Para turis asing dan warga Tutsi yang mulai panik pun mulai mengungsi ke hotel yang dijaga pasukan PBB. Tak hanya dibuat panik oleh masalah Hotel, Paul juga khawatir karena istrinya berasal dari kelompok Tutsi.

Paul berusaha bersikap tegar dengan tetap bisa berperan sebagai manajer hotel yang baik di tengah berbagai kekacauan tersebut. Ia juga harus menerima ancaman bahaya yang lebih besar karena dianggap sebagai pihak yang berkhianat, ketika dia berusaha  melindungi suku Tutsi yang menginap di hotelnya.

Paul berusaha menyelamatkan keluarga dan tetangganya dari mafia Hutu bersenjata. Perlindungan tersebut dia lakukan dengan kepemimpinan, kecerdikan dan penyuapan yang ia dilakukan. Pada malam pembantaian, tetangga dan keluarga Paul sangat berharap padanya supaya dapat selamat. Setelah tawar menawar dengan seorang petugas militer Rwanda untuk keselamatan keluarga dan teman, Paul membawa mereka ke hotelnya. Makin banyak pengungsi membanjiri hotelnya dikarenakan kamp pengungsian PBB sangat berbahaya dan terlalu penuh pada saat itu. Hotel pun menjadi penuh sesak, Paul mesti berusaha menghalihkan tentara Hutu, peduli terhadap pengungsi, dan bersikap profesional dengan menjaga popularitas hotel.

Penjaga perdamaian PBB, yang dipimpin oleh Kolonel Oliver (diperankan oleh Nick Nolte), seolah tak dapat bertindak apapun karena dikenakan larangan untuk penggunaan senjata untuk melawan para pemberontak. Kolonel Oliver pun mulai frustasi dan marah karena kekuatan barat yang tidak peduli terhada Rwanda.

Paul dan keluarganya mulai mengalami tekanan akibat pemberontak mengepung hotel. Pasukan PBB berusaha mengevakuasi kelompok pengungsi, termasuk keluarga Paul. Namun usaha tersebut seolah sia-sia karena dihadang oleh massa perusuh Hutu. Dalam usaha terakhir untuk menyelamatkan pengungsi, Paul berbicara kepada Jenderal Rwanda dan berusaha memerasnya dengan ancaman menjadikan sang jenderal penjahat perang. Bizimungu terpaksa setuju dan kembali ke hotel yang dalam keadaan diserang oleh pemberontak.

Paul yang panik mulai mencari istri dan keluarganya setelah tentara Bizimungu dapat mengakhiri kekacauan. Ia berpikir kalau mereka sudah bunuh diri seperti yang diperintahkan Paul, yaitu apabila orang-orang Hutu dapat menyerang hotel. Setelah ketakutan setengah mati, Paul menemukan mereka bersembunyi di kamar mandi. Keluarga dan para pengungsi akhirnya dapat keluar dari hotel dengan kawalan konvoi pasukan PBB. Mereka menempuh perjalanan melewati pengungsi Hutu dan milisi Interhamwe menuju ke belakang garis depan pihak pemberontak Tutsi. Di akhir cerita, Paul menemukan kedua keponakannya yg masih kecil, yang keberadaan orang tuanya tidak diketahui, dan mengajak mereka dengan keluarganya keluar dari Rwanda.

Film ini dapat menjadi cerminan bagi negara Indonesia yang memiliki beragam suku, budaya, dan kepercayaan yang berbeda-beda, dimana konflik sering terjadi akibat keragaman tersebut. Misalnya pada kasus ahmadiyah, ambon, poso dan kasus-kasus lainnya, dimana Kaum minoritas terkadang menjadi korban. “Untuk pelanggaran, meskipun tidak membunuh, namun akses untuk mencari keadilan sering diabaikan dan dilanggar”. Tutur Ali.

 

Cak Boy