Benarkah Budaya Pendidikan Di Kota Malang Ini Sudah Luntur?

diambil dari majalah Canopy edisi 48

 

Jam menunjukkan jam 13:15, jalan Veteran sudah dipenuhi pelajar-pelajar baik yang masih memakai seragam biru putih, adapula yang sudah memakai seragam abu-abu,  pulang dari sekolah. Sekaligus banyak mahasiswa yang berlalulalang keluar masuk kampus. Membuat jalan serasa penuh dan sibuk dengan kegiatan mereka.

Lingkungannya yang nyaman, udaranya yang sejuk, dan bukan pusat perdagangan menjadikanMalangtidak hanya dijadikan sebagai tempat kunjungan wisata oleh banyak orang, tetapi juga dijadikan sebagai salah satu tempat untuk menuntut ilmu. Keadaan geografis yang dimilikikotaMalangini, menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, berbondong-bondong untuk menimba ilmu karena suasananya yang kondusif untuk belajar.

Sejarah Kota Malang Sebagai Kota Pendidikan

JulukankotaMalangsebagaikotapendidikan sudah ada sejak dipindahkannya Pasuruan keMalangpada tahun 1914.  Kemudian pada tahun 1962, pada sidang Paripurna Kotapraja Malang, ditetapkan susunan dasar pembangunankotaMalang. Pada sidang tersebut dibahas bahwaMalangditetapkan sebagaikotapendidikan,kotaindustri, dankotapariwisata. Ketiga hal pokok tersebut menjadi cita-cita masyarakatkotaMalangyang harus dibina, yang kemudian disebut sebagai Tribina CitakotaMalang.

Adanya cita-citakotaMalangtersebut, memicu pemerintahkotaMalanguntuk melakukan pembangunan dan pengembangan, khususnya menujuMalangsebagaikotapendidikan,kotapariwisata, dankotaindustri.

Sesuai yang dijabarkan Hendrawan, selaku pakar pendidikan, yang juga menjabat sebagai ketua LP3 Universitas Brawijaya, kota pendidikan merupakan suatu kota dimana didalamnya kita dapat menyaksikan setiap denyut kota itu mempunyai nuansa belajar, dimanapun dan kapanpun. “Tidak hanya di kampus atau di sekolah-sekolah saja kita bisa belajar, tetapi dipojok manapun kita bisa belajar, baik itu di halte, di tepi jalan, dan sebagainya”, tambahnya.

Hendrawan juga menjelaskan, ada empat faktor yang bisa dijadikan parameter apakah suatu kotaatau wilayah bisa dijuluki sebagai kotapendidikan atau tidak. Pertama, adanya tenaga pendidik atau pengajar. Kedua, adanya orang yang dididik, dalam hal ini adalah pelajar atau mahasiswa. Ketiga yaitu adanya sarana dan prasarana yang mendukung pendidikan, dan yang terakhir adalah outcomes, yaitu dampak sosial yang ditimbulkan kepada masyarakatnya, baik dalam bentuk tingkah laku atau cara berinteraksi dengan masyarakat.

Semakin meningkatnya jumlah pelajar, baik tingkat SD, SLTP, SMA, maupun Perguruan Tinggi (PT), dan semakin banyaknya jumlah sekolah, PT, dan lembaga-lembaga pendidikan non formal lainnya bukan parameter mutlak yang diperlukan suatu wilayah agar wilayah tersebut berhak mendapat julukan sebagai kota pendidikan atau kota pelajar. Hendrawan juga menambahkan, banyak orang yang hanya tertipu dengan hal-hal normatif saja. Mereka menilai suatukotasebagaikotapendidikan pada segi kuantitasnya saja, tidak pada segi kualitas yang dihasilkan. “Kalau Malang adalahkotapendidikan, kok masih banyak orang yang tidak tahu sopan santun dalam berkendaraan, semakin marak kriminalitas”, tambah Hendrawan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pratiwi, salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Unibraw, yang juga menjabat sebagai divisi humas di RSC (Research Study Club, Red) menyatakan, kalau dilihat dari sarana prasarana di kota Malang ini, Malang memang layak disebut sebagai kota pendidikan, tapi saya tidak merasa kalau kualitas orang-orang yang ada di Malang menunjukkan kalau mereka berpendidikan.

Berbeda sekali dengan apa yang diungkapkan Yogi Sugito, Pembantu Rektor I Universitas Brawijaya, “Malangsudah layak mendapat julukan sebagaikotapendidikan, peningkatan jumlah PT negeri maupun swasta, fasilitas-fasilitas lainpun yang ada kaitannya dengan pendidikan juga semakin lengkap dan mulai terpenuhi. Hal ini terjadi karena adanya dukungan pemkot”, paparnya.

 Sepakat dengan Yoggi Sugito, Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unibraw Djahjanulin Domai mengatakan, tidak bisa jika tindak kriminalitas yang ada disuatu kota digunakan untuk menghakimi bahwa kota tersebut tidak layak sebagai kota pendidikan, adanya kriminalitas lebih cenderung karena faktor kebutuhan. “La wong profesor juga bisa bertindak kriminal”, ungkap Ulin panggilan akrab bapak mahasiswa Unibraw ini ketika ditemui Canopy di ruang kerjanya.

Data yang Meningkat

Jika dilihat dari data empiris jumlah pengunjung Perpustakaaan Daerah (perpusda)kotaMalangdan Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya, keinginan untuk meningkatkan kemampuan baca semakin lama semakin meningkat. Hal ini dilihat dari jumlah pengunjung perpustakaan dan jumlah peminjam buku di perpustakaan yang semakin meningkat. Kunjungan fisik pada Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya, pada tahun 2005 mengalami kenaikan sebasar 18 %, dan peminjam buku meningkat sebesar 19 %.

Sedangkan H. M. Jemianto selaku Kepala Perpusda Malang juga mempertegas bahwa pengunjung perpustakaan semakin lama semakin meningkat, tidak tanggung-tanggung kenaikannya, pengunjung yang dulunya cuma sekitar 50 orang perhari, tetapi sekarang dalam sehari bisa mencapai 800 orang. Ia menambahkan, kenaikan yang bisa dibilang sangat tajam ini, disebabkan karena kita (perpusda Malang, Red) menerapkan konsep baru untuk menarik minat masyarakat agar gemar membaca. Dimana perpustakaan tidak lagi  sebagai tempat membaca yang membosankan saja, tetapi menjadikan perpustakaan sebagai tempat wisata intelektual, pusat pembelajaran, dan pengembangan informasi.

“Selain itu, kami selalu melakukan sosialisasi kepada masyarakat, baik berupa media cetak maupun elektronik _radio dan TV lokal_, selain itu juga diadakan perpus keliling yang menjangkau wilayah yang masyarakatnya kesulitan mengakses secara langsung ke perpusda. Atau mungkin karena gedungnya yang baru?” tuturnya.

Sama halnya dengan apa yang diungkapkan Djahjanulin Domai, mengatakan, kalau dilihat dari data dan fakta memang naik, ini ditandai dengan adanya banyaknya fasilitas yang menunjang kegiatan yang bersifat pendidikan seperti banyaknya warnet, dan sarana teknologi lainnya, selain itu di Malang juga terdapat 19 tempat strategis yang dijadikan titik pusat informasi dikota Malang. Hal ini bisa menunjukkan bahwakotaMalangmasih layak disebut sebagaikotapendidikan.

Dalam penjelasanya lagi ia mengatakan, jika dibandingkan dengan kota-kota lain yang identik sebagai kota berbasis pendidikan seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta ataupun Bogor, Malang masih sebagai barometer pendidikan di Indonesia. Kelemahan selama ini karena Malangmasih kalah pamor, dan kurangnya fasilitas dibandingkan dengan kota-kota tersebut dan sense of belonging masyarakatnya yang kurang, membuat trade mark Malang sebagai kota pendidikan kurang begitu dikenal. “Munculnya learning café, meningkatnya minat baca masyarakat dan ditemukan banyaknya cangkrukan orang di pinggir jalan dekat kampus untuk diskusi tidak sekedar nongkrong atau makan minum menunjukkan iklim akademis begitu kental diMalang, dan ini menjelaskanMalang memangkota pendidikan” jelas Ulin.

“Tetapi mungkin secara perasaan sebagai individu, warga pendidikan yang setiap hari berinteraksi dengan lingkungan akademis kita merasa banyaknya pusat perbelanjaan dan hiburan membuat kita berpandangan bahwa budaya kotapendidikan di Malangini semakin berkurang” ungkap Ulin. Walaupun ia juga mengatakan keberadaan tempat-tempat tersebut berpengaruh pada life style masyarakatkotaMalang khususnya pelajar dan mahasiswa, tetapi ini tidak terlalu besar prosentasenya selain juga tergantung pada sifat individunya.

“Luntur atau tidaknya budaya pendidikan diMalangyang notabene sebagaikotapendidikan, sebenarnya ada dua sudut pandang. Pertama jika dilihat dari jumlah lembaga-lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, kualitasnya mengalami kenaikan. Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang misi sebenarnya pendidikan, yaitu menuntut ilmu bukan karena gelar, yang mana sekarang banyak masyarakat yang bergelar sarjana dan sebagainya, tidak diperoleh dengan jalan sekolah terlebih dahulu melainkan diperoleh dengan cara membeli, maka budaya pendidikankotaMalangini mengalami penurunan”, jelas Haryono, sejarahwanMalang. Ia juga menambahkan, keadaan seperti itu tidak hanya terjadi diMalangsaja, tetapi kemungkinan juga terjadi hampir di seluruhkotadiIndonesia.

Jika melihat fenomena sekarang ini, banyak tempat-tempat hiburan dan pusat perbelanjaan yang pengunjungnya didomonasi dari kalangan pelajar atau mahasiswa sebagai elemen pendidikan, bukan berarti mengambil alih ketertarikan mereka untuk belajar, tetapi hanya sebagai kebutuhan untuk refreshing dan melepas penat setelah belajar. Dan hal ini positif jika masih pada proporsi yang benar. Pendapat orang boleh berbeda tetapi apakah memang Malang sudah luntur dari image-nya sebagai kota pendidikan tergantung bagaimana kita dan seluruh elemen masyarakat kota ini menciptakannya. Wiwit, Vivi.