Mengenal Lebih Dekat Lorong Kedung Manten

diambil dari majalah Canopy edisi 48

Bululawang. Suatu daerah di Kabupaten Malang yang sudah tidak asing lagi namanya, khususnya bagi penduduk asli Kota Malang. Tapi mungkin belum banyak yang tahu bahwa Bululawang memiliki daerah yang berpotensi besar sebagai daerah wisata. Lorong Kedung Manten yang terletak di daerah Kendalisodo Bululawang ini memang jarang “disentuh” sehingga keberadaannya sendiri masih terasa asing.

 

            Langit di atas Kota Malang terlihat biru cerah saat Tim Jelajah Canopy bersiap-siap berangkat menuju Bululawang. Tepat pukul 09.15, kami sudah berangkat dengan penuh semangat untuk menyusuri Lorong Kedung Manten Bululawang dengan menggunakan sepeda motor. Kendalisodo, daerah tempat lorong ini berada memang cukup sulit jika dijangkau dengan angkutan umum. Angkutan umum terdekat yang ada hanyalah bus jurusan Malang-Blitar. Jika naik bus-pun, kita akan kesulitan karena tidak adanya angkutan pedesaan atau semacamnya dan jika ditempuh dengan berjalan kaki akan membutuhkan waktu yang sangat lama karena masih berjarak kira-kira 10 km.

Sejuta Keistimewaan Lorong Kedung Manten

             Sesampai di daerah Kendalisodo tepatnya di Masjid Kedung Manten pukul 10.45 kami disambut oleh H. Nur, orang yang melakukan tirakat di masjid tersebut. Lorong Kedung Manten berada tepat di bawah Masjid Kedung Manten. Sebelum mencapai masjid itu kami harus melalui sebuah sungai yang mengalir didepannya. Sungai ini juga memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan masjid dan lorong tersebut. Dinamakan Kedung Manten itu sendiri karena ada sejarah tersendiri di dalamnya. “Kedung” yang artinya kedalaman air sungai yang melebihi satu batang pohon bambu dan “Manten” yang artinya pengantin. Konon, dahulu ada sepasang pengantin baru yang hilang karena tidak mau membuang ayam di sungai. Padahal ritual “membuang ayam”  bagi pengantin baru ini sudah menjadi tradisi yang dilakukan  masyarakat setempat untuk menolak bala’ (menghindari celaka, Red).

            Masjid Kedung Manten ini memiliki keistimewaan yaitu di bawahnya terdapat sumur dan lorong (dalam bahasa Jawa “urung-urung”) yang sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang. Dahulu lorong ini dipakai untuk tempat persembunyian pejuang dari kejaran penjajah. Masjid diatasnya yang berdiri tahun 1966 ini dibangun oleh H. Bustomi, warga setempat, dengan maksud agar lorong tersebut lebih tersembunyi. Sedangkan air sumur didalamnya memiliki khasiat dan dipercaya untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Masyarakat yang mempercayai air tersebut bukan hanya masyarakat setempat, tapi juga ada yang datang dari luar kota. Salah satu penyakit yang berhasil sembuh karena air tersebut yaitu penyakit gila. “Dengan kekuasaan Tuhan, maka berbagai penyakit bisa sembuh” ungkap H. Nur.

Masjid itu juga dimanfaatkan untuk tempat tirakat bagi orang-orang yang ingin menjauhkan diri dari “keduniawian”. Bahkan salah satu dari orang itu ada yang sudah menjalaninya selama 17 tahun. H.Nur sendiri mengaku sudah menjalani tirakat selama 13 bulan, ia merasakan sendiri khasiatnya yaitu hidup menjadi lebih tenteram. Kemudian ia mengambil contoh dahulu pernah punya banyak hutang kemudian lunas, entah bagaimana caranya. “Yang jelas semua itu tidak luput dari Kuasa Tuhan” tambah H. Nur.

            Selama ini masjid beserta lorong atau urung-urung tersebut tidak diperhatikan oleh warga dan pemerintah setempat, bahkan mungkin bisa dibilang tidak tahu akan keberadaannya. Tempat ini memang masih terkesan sangat alami dan belum dijamah. Bahkan warga yang berada di sekitarnya pun tidak mengetahui tentang adanya urung-urung atau lorong bawah tanah yang tersembunyi di bawah masjid tersebut.           “Warga sangat senang dengan adanya masjid Kedung Manten, akan tetapi mereka sangat menyayangkan karena setelah H.Bustomi meninggal, tidak ada lagi yang mengurusi lorong maupun masjid tersebut” ungkap Misti salah satu warga setempat yang kami temui. Wasiah, ibu dari Misti menambahkan sebagai tetua disitu, masjid itu menjadi tidak seramai dulu dan tidak digunakan sebagai tempat ibadah karena tidak ada lagi warga yang sholat berjamaah disitu, malah terkesan angker karena tidak terawat dan jarang berpenghuni.

Dengan adanya orang-orang yang tirakat disitu warga sangat senang karena dengan adanya mereka. “Jadi ada yang merawat dan membersihkan tempat tersebut meski hanya sebatas kemampuan mereka saja” ungkap Sumaiyah warga lain yang kami temui. Ia menambahkan, warga setempat berharap supaya ada seseorang yang mau menjadi tetua dan mengurusi tempat tersebut, bahkan kalau bisa dijadikan pondok pesantren lagi.sehingga tempat ini menjadi ramai seperti dulu dan warga bisa beribadah disini lagi dan tidak jauh-jauh ke masjid besar. Dan dengan merawat masjid tersebut secara tidak langsung juga akan menjaga kelestarian urung-urung atau lorong yang ada di dalamnya.

Ketidakpedulian Pemerintah

Menurut pendapat Drs.Saurianto, MM yang menjabat sebagai Kabid Pariwisata Dinas Perhubungan dan Pariwisata (DishubPar, Red), mengatakan dari pihak dinas pariwisata maupun pihak Pemerintah Kabupaten pun tidak mengetahui adanya urung-urung yang tersembunyi dibawah masjid yang terletak didaerah Kendalisodo, Bululawang tersebut. Ia malah berterima kasih atas informasi  yang telah diberitahukan tentang adanya urung-urung atau lorong yang ada di daerah Bululawang tersebut. Pihak DishubPar sendiri mengakui bahwa kinerja mereka akhir-akhir ini tidak secara maksimal atau bahkan menurun karena keterbatasan dana serta tenaga kerja yang menangani, dan menyebabkan kurangnya informasi tentang adanya tempat-tempat yang sebenarnya berpotensi untuk dijadikan sebagai asset wisata di Kabupaten Malang.

Selama ini yang dilakukan oleh pihak DishubPar sendiri saat mengetahui telah ditemukannya situs-situs di  Malang hanya mengusahakan untuk mengurug situs tersebut agar tidak dirusak atau dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak berguna oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. “Seperti penemuan arca-arca di Semeru Selatan, Altar Benjor Atas di TNBTS (Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Red) yang hanya diurug dengan pasir saja untuk tetap menjaga kelestariannya, selain karena faktor keterbatasan dana untuk menangani lebih lanjut situs-situs tersebut” ungkap Saurianto.

Pak Saur panggilan akrabnya, mengharapkan kerja sama dengan mahasiswa pencinta alam untuk menyusuri urung-urung tersebut, karena pemerintah sendiri tidak mempunyai alat-alat yang lengkap untuk mengecek total. “Dari pihak pecinta alam sendiri dapat mengajukan proposal untuk pengadaan dana yang akan digunakan dalam penelusuran itu sendiri” ujar Saur. Beliau juga memaparkan bahwa untuk merenovasi atau mengkaji lebih lanjut tentang situs tersebut sebenarnya termasuk dalam kinerja Dinas Purbakala.

Di akhir perbincangannya dengan Canopy Saurianto menerangkan pihak DishubPar hanya bertugas untuk mengajukan serta mengupayakan suatu situs yang baru ditemukan untuk di jadikan sebagai tempat wisata saja. Kemudian ia menambahkan bahwa dalam hal ini sudah ada pembagian tugas atau Job Discribtion-nya masing-masing, yaitu antara Dinas Purbakala dengan DishubPar.

Amel, Candra.