Menjual Tabu Lewat Jilidan Buku

diambil dari majalah Canopy edisi 44

 

Akhirnya, Surti menjerit agak keras ketika Tejo menghujam pada tubuhnya…. Terasa ada sesuatu yang robek di dalam vaginanya. Namun, belum sempat ia merasa sakit dan perih lebih lama, Tejo melanjutkan hujamannya…

Itulah satu penggalan cerita dalam buku Saru: Malam Pertama karya FX Rudy Gunawan dkk. Jorok! Tabu! Mungkin umpatan itu yang terlintas di benak awam saat membaca buku itu. Betapa tidak, buku yang pula menyelip misi mendobrak tabu, begitu istilah FX Rudy Gunawan, ternyata laris di pasaran bak kacang goreng. Sekalipun dianggap jorok dan tabu dalam sajian bahasanya, ternyata buku yang mengusung realitas seks sebagai bahan eksploitasai ini mampu membius pembaca.

Bahkan dalam perkembangannya diiringi buku-buku lain dengan model serupa, yang secara sadar telah menarik mata jutaan orang. Masyarakat yang masih menganut budaya timur dibuat penasaran oleh karya-karya apik itu. Stigmatisasi masyarakat yang selama ini masih memegang kuat aturan normatifitas, bergeser menuju arah kebebasan dan keterbukaan. Itulah potret masyarakat pembaca.

Serupa dengan buku Malam Pertama, sebelumnya juga beredar buku-buku saru: Sex In The Kost, Pemerkosaan Atas Nama Cinta, Campus Fresh Chicken, Garis Tepi Seorang Lesbian, Surabaya Double Cover dan lainnya. Kesemuanya itu bukanlah buku kuning yang dilarang pemerintah karena menyajikan kevulgaran dalam membaca seks. Tapi yang disajikan adalah sisi realitas perwujudan dari watak amoral yang menghinggapi masyarakat saat ini.

Kali pertama adalah buku  Jakarta Under Cover karya Moammar M.K. Buku tersebut kemudian masuk dalam deretan Best Seller. Dalam Jakarta Under Cover, Moammar M.K. yang juga adalah wartawan  ini mencoba  menguak perilaku seks wargaJakarta yang berada di tengah kebisingan metropolitan. Buku ini sempat membuat heboh masyarakat, sampai-sampai ada yang meragukan validitas data yang disajikan. Jangan jangan hanya sebuah cerita  fiktif saja yang diracik penulis, dengan tujuan untuk membuat heboh masyarakat atau alasan logis lainnya: komersialisasi.

Buku-buku yang lainya pun menuai kritik serupa. Seks yang selama ini tabu dan hanya bermukim di wilayah ranjang mengemuka dalam bentuk buku dan menjadi perdebatan pelik di masyarakat. Pergunjingan pun bukan hanya soal halal tidaknya  membincangkan seks di depan umum tapi bergeser ke arah pelanggaran asusila di masyarakat.

Keinginan Pasar

Dengan maraknya buku Saru itu Iip Wijayanto, penulis buku Sex In The Kost, Pemerkosaan Atas Nama Cinta dan Campus Fresh Chicken ini, malah menguak wajah seks masyarakat yang selama ini tertutup rapat. Lebih lanjut Iip menjelaskan bahwa dengan kehadiran buku ini akan membentengi masyarakat dari informasi yang selama ini hanya deskriptif yang ujung-ujungnya menyesatkan masyarakat.

Alasan logis yang terbesit di benak penulis saat keluar ide untuk membikin buku yang mengusung realitas seks ini celah pasar yang begitu besar. “Latar belakang saya menulis adalah faktor pasar. Penulis tentunya tidak bisa menulis hanya untuk memuaskan orgasmenya sendiri, artinya dia harus menghitung betul orientasi pasar” ungkap Iip. Karena itu tak salah saat buku-buku karyanya beredar di pasar justru digandrungi pembaca yang kebanyakan penasaran.

Bahwa orientasi penulisan buku berlabel seks adalah pasar. Hal ini diamini oleh M.T Firdaus, direktur penerbit Qalam Press. “Marketable saja, kami mempertimbangkan pasar” ungkapnya. Berat sekali untuk menerbitkan buku-buku selain label seks, agaknya berat di pasar. Pasar kurang begitu menggandrungi, di samping karena faktor persaingan di antara penerbit yang semakin keras.

Menurut Firdaus saat pertama kali menerbitkan buku Sex In The Kost karyaIip Wijayanto,iamelihat bahwa pasar memang haus wacana seks. Fenomena ini terbaca saat buku pendahulunya Jakarta Under Cover banyak diburu masyarakat pembaca. “Ini merupakan momentum bagi kami, jika Jakarta Under Cover mengungkapkan seks secara blak-blakan, kami mengambil segmen yang lain” begitu tambahnya. Tapi menurutnya pula bahwa kegandrungan pasar tidak akan bertahan lama. Masyarakat lama-kelamaan akan jenuh mencerna wacana-wacana tentang seks. Mereka selalu butuh sesuatu yang baru dan segar.

Berbeda dengan Qalam Press. Galang Press, penerbit yang  mencetak Jakarta Under Cover menyanggah bahwa industri penerbitan hanya berkiblat pada pasar saja, tapi ada pertimbangan yang lebih matang lagi. Saat ini masyarakat pembaca tertarik pada buku-buku itu karena mereka memenggal bagian-bagian yang ada unsur syahwatnya saja, lainnya tidak dicerna. Dalam hal ini buku yang menampilkan kevulgaran seksual tersebut mencoba membuat kreatifitas saja.

Terlepas dari itu, diakui atau tidak, masyarakat memang haus soal seks. Menurut Helmi, pengelola Kedai Buku Sinau di Malang, penjualan buku-buku yang berbau seks memang lebih banyak peminatnya. Misalnya saja saat launching buku Campus Fresh Chicken, ia membandingkan peminat yang datang mencapai 50%, lebih besar daripada saat launching buku sosial, politik, sastra budaya dan buku umum lainnya.

Helmi menuturkan bahwa membedah buku-buku model Campus Fresh Chicken itu bukan hanya untuk takjub melihat isi, namun pula memberikan pendidikan pada masyarakat. Pendidikan yang ditawarkan memang menyoal seks, namun justru menjadi wacana alternatif yang bisa didiskusikan.

Pembusukan Budaya

Seks adalah bagian yang sangat indah dari manusia, karena menyangkut penyatuan jiwa. Sehingga terlalu indah untuk dieksplor. Begitulah ungkapan Mbak Ratna, sapaan akrab Ratna Indraswari. Cerpenis dariMalangini menyatakan ketidaksetujuannya saat ditanya tentang maraknya buku-buku yang mengeksploitasi organ syahwat manusia itu. “Secara pribadi, saya tidak setuju dengan buku-buku semacam ini”.  Ia lebih setuju bila masalah seks ditulis secara ilmiah, seperti buku ala dr. Boyke. “Jangan sampai menulis hanya untuk mempopulerkan buku atau nama apalagi bila isinya dapat merangsang syahwat” ungkapnya.

Lebih keras ia mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu pembusukan budaya.”Seperti halnya dengan Mc Donald yang telah membusuk di Amerika dan dikonsumsi diIndonesia”. Sebuah hasil karya juga dapat mempengaruhi budaya walau susah.

Dalam kaitannya dengan budaya, Iip sendiri sebagai penulis buku-buku tersebut berkilah, bahwa masyarakat tak perlu takut rusak karena tawaran wacana buku tersebut.  “Karena masyarakat kita sudah rusak, jadi nggak usah takut lagi untuk dirusak. Tanpa dirusak dengan buku, mereka sudah rusak” ungkapnya santai. Menurutnya masyarakat kita sudah berada pada limit paling bawah dan tak  ada yang lebih rusak dari wajah seks masyarakat kita saat ini.

Lalu pendidikan model apa yang terbesit dalam buku-bukunya itu? Sebagai penulis buku saru Iip justru khawatir dengan kerusakan amoral yang memborok di masyarakat. Bila tidak segera ditreatment akan  menimbulkan implikasi dan dampak yang lebih buruk lagi bagi masyarakat. “Say No Sex Without Married” ungkapnya

Perlu Kedewasaan

Bicara  kerusakan moral dan budaya, banyak sekali variabel yang berkaitan. Mediamassajelas menjadi aktor utama dalam hal ini. Buku sebagai bagian dari mediamassa, tidak menutup kemungkinan berdampak negatif karena keterkaitannya dengan rekayasa sosial. Hal ini seperti yang diungkapkan Iip. “Karena buku berhubungan dengan wacana dan pemikiran penulis, penulis akan menulis sesuatu yang mengajak ke arah negatif ataupun positif” tambahnya. Dengan demikian pembacalah yang menentukan apakah dia akan ke arah negatif atau positif.

Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kedewasaan. Begitu ungkap Sindhunata, seorang sastrawan dan budayawan kenamaan yang juga kadang membumbui  karyanya dengan bahasa seksualitas. “Kalau orang yang sudah dewasa saya rasa tidak akan menerima dengan salah” ungkapnya usai acara di Malang. Dia juga menambahkan bahwa menulis karya semacam itu adalah justru menggambarkan kejujuran.

S.K. Mahiruni, Luluk Ardhiana.