Objektifitas

    diambil dari majalah Canopy edisi 44

Seperti telah kita ketahui bahwa Indonesia sedang dilanda krisis yang berkepanjangan, tidak hanya krisis ekonomi dan moral tetapi krisis cara pikir pun rasanya telah terjangkit juga. Dari hari  ke hari cenderung memperlihatkan suatu degenerasi, apalagi sebentar lagi kita akan menghadapi yang katanya pesta demokrasi atau Pemilihan Umum. Mungkin karena katanya negara kita adalah negara demokrasi maka muncul faham- faham baru yang ditandai dengan bertebarannya partai- partai politik baru dengan pemimpin- pemimpin baru juga tentunya, entah itu pemimpin berwajah lama dengan partai barunya karena mungkin kecewa atau mungkin pemimpin wajah baru yang baru bangun tidur. Munculnya pemimpin baru tentunya akan membawa cara pandang baru juga yang kadang- kadang perkataannya dianggap seolah- olah sebagai firman dari tuhan. Dari kejadian seperti itulah kiranya dapat kita cermati bahwa sebagian dari kita lebih bersifat subjektif  daripada berfikir objektif. Ketika seseorang memiliki cara fikir subjektif maka apapun yang dikatakan oleh seorang figur yang kita idolakan akan selalu dianggap benar karena kita silau dan diburamkan dengan pangkat, jabatan, kedudukan yang dibawanya. Tetapi apabila perkataan itu munculnya dari lawan atau musuh kita maka sekalipun benar kita justru menutup mata dan telinga lalu memojokan bahkan menyudutkannya. Cara fikir seperti ini jelas akan memunculkan suatu ketidak adilan, karena keadilan itu akan muncul dari cara fikir yang objektif.

     Semisalnya, ketika seorang Albert Einstein berkata bahwa mencuri itu adalah perbuatan yang mulia lalu datang seorang anak miskin yang dungu dan berkata bahwa mencuri itu perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain bahkan masyarakat. Kita tanpa banyak basa- basi akan lebih atau bahkan membenarkan perkataannya sang Albert Einstein, karena dia seorang yang terkenal pintar dengan teori relativitasnya ketimbang membenarkan perkataan anak yang dungu tadi. Menurut hemat saya, adanya kefanatikan pun karena disebabkan oleh cara fikir subjektif kita. Kita hanya manusia biasa yang tak mungkin benar selamanya, yang memiliki kebenaran mutlak hanyalah Tuhan dan Tuhan pun tak pernah bersifat subjektif, Ia senantiasa bersifat objektif. Misalnya, ketika terjadi suatu gempa bumi yang maha dahsyat di suatu kota yang dihuni oleh berbagai penganut agama, korbannya tak pernah  pandang agama, apakah itu Kristen, Islam, Hindu, dsb. Pada kejadian tersebut Tuhan tidak memihak agama apapun yang dianut, kalaulah tuhan bersifat subjektif terus bagaimana dengan Atheis? Apakah tuhan bersifat netral terhadap mereka karena mereka tak beragama?

     Ibarat buah durian tetapi setelah kita buka ternyata isinya adalah kacang, apabila dilihat sekilas dari penampilannya, pujaan kita terlihat meyakinkan tetapi perkataan dan perbuatannya? Karena gelar dan segala atribut yang dibawanya lantas kita akan tetap menganggap seolah- olah dia itu Tuhan sehingga perkataan dan perbuataanya sama dengan firman? Ataukah suatu ketika kita mendengarkan lagu yang enak lalu  memojokan dan menghinanya semata- mata karena dihasilkan oleh group band yang kurang jantan seperti Sheila On 7? Itu semua terserah anda dan tanpa bermaksud untuk menyinggung mungkin inilah buah pikiran yang dapat saya keluarkan demi sebuah pencerahan pemikiran.

                                      Seenna, hpt 2000