Paham (i) Tujuan (Ber) Organisasi


Berbicara soal organisasi adalah berbicara soal tujuan. Dan jika kita bedakan menurut ruang geraknya, tujuan itu ada dua: tujuan internal dan tujuan eksternal. Sedangkan menurut sifatnya, tujuan dibedakan menjadi tujuan kelompok (organisasi) dan tujuan pribadi.

Pertama kita akan membicarakan soal tujuan berorganisasi. Imbuhan ber- pada kata organisasi miliki arti sifat organisasi. Yakni sifat proses suatu organ untuk melakukan suatu kegiatan pengorganisasian. Artinya, jika seseorang masuk dalam suatu organisasi untuk berorganisasi, orang tersebut harus melakukan kegiatan-kegiatan organisasi sesuai dengan posisi dan fungsinya.

Nah, kita akan menarik lagi ke belakang pada kata masuk organisasi. Sebelum seseorang masuk dalam suatu organiasi, tentu orang tersebut memiliki tujuan: mengapa orang tersebut masuk dalam organisasi? Inilah yang kemudian dikatakan sebagai tujuan berorganisasi. Dan tujuan ini, tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan organisasi. Artinya, tujuan berorganisasi hanya untuk kepentingan pribadi, seperti untuk mengembangkan diri, untuk mengaktualisasikan diri, atau sekedar mencari teman. Jika seseorang berorganisasi tetapi tidak memiliki tujuan, berarti orang tersebut berorganisasi hanya coba-coba, atau dengan kata lain hanya sekedar iseng.

Keisengan ini bisa jadi akan menghambat tujuan dari organisasi itu sendiri. Mengapa? Karena dalam berorganisasi dia tidak memiliki motif untuk bekerja, berinteraksi dalam organisasi, dan yang paling penting, tidak ada hasil yang dicapai, terutama bagi dirinya sendiri. Orang tersebut hanya akan menjadi follower, melakukan berbagai hal tanpa mengerti dan memahami mengapa melakukan kegiatan-kegiatan itu. Hingga pada suatu saat akan mengalami kejenuhan. Inilah yang disebut  Unorientation Syndrome, kondisi dimana seseorang atau “subjek” tidak memiliki tujuan tetapi banyak hal yang dilakukan. Sehingga, terjadi proses kelelahan dan kejenuhan dalam diri subjek tersebut karena tidak memiliki tujuan.

Namun demikian, seiring dengan proses yang dia alami, bisa jadi orang tersebut kemudian menemukan tujuannya sendiri untuk berorganisasi, tetapi ini akan membutuhkan proses yang cukup lama, dan perpikir.

Setelah pembahasan mengenai tujuan berorganisasi, dan setelah menjadi bagian (organ) dalam organisasi, selanjutnya adalah memahami tujuan organisasi. Tujuan organisasi merupakan hal yang paling mendasar dan esensial dari sebuah intisari berorganisasi. Tujuan organisasi ini tidak lain dibentuk dari proses pemikiran bersama antar anggota organisasi untuk mewujudkan cita-cita, keinginan, angan dan atau mimpi, yang bisa jadi memang sudah seragam. Disinilah terjadi proses yang cukup rumit yakni apabila harapan-harapan itu bersifat heterogen. Proses dialektika sehingga menghasilkan pemahaman bersama,  akan membutuhkan kerja keras. Apalagi jika kristalisasi tujuan ini disusupi oleh unsur-unsur politis di luar organisasi atau kepentingan pribadi. Tentu tarik ulur itu akan ada. Dalam berorganisasi, setiap subjek memang memiliki orientasi yang berbeda ketika masuk di organisasi. Namun ketika berbicara serikat, berkumpul, perlu kiranya kepentingan-kepentingan pribadi itu dikesampingkan terlebih dahulu, demi tercapainya tujuan organisasi.

Seperti yang disampaikan di awal tadi, tujuan organisasi dibedakan menjadi dua: eksternal dan internal.

Tujuan internal adalah tujuan dalam tubuh organisasi itu sendiri. Ruang lingkupnya seputar organisasi itu sendiri, terurtama dalam hal kaderisasi, seperti apa dan bagaimana kader-kader dalam organisasi akan dibentuk. Misalnya, organisasi tersebut ingin mencetak jurnalis terbaik. Konsekwensinya kegiatan-kegiatan yang dilakukan diarahkan untuk mencetak dan mengembangkan kader menjadi jurnalis terbaik. Dengan demikian, output yang dihasilkan nanti dari organisasi tersebut adalah jurnalis-jurnalis yang handal. Contoh lain adalah menjadikan organisasi sebagai lembaga pergerakan intelektual sosialis. Artinya organisasi itu harus menjadikan dirinya sebagai organisasi yang bergerak secara intelektual dan bersifat sosialis. Untuk mewujudkan itu, mau tidak mau kader-kadernya harus belajar mengenai paham-paham sosialis dan praktek-praktek intelektual.

Tujuan eksternal, adalah tujuan yang sifatnya keluar, memiliki interaksi dengan pihak-pihak yang berada di luar organisasi itu sendiri. Misal, menjadikan organisasi A sebagai lembaga yang mampu meningkatkan daya kritis mahasiswa. Maka, kegiatan-kegiatan pengorganisasian dalam organisasi tersebut dilakukan untuk bagaimana caranya agar mahasiswa memiliki daya kritis, seperti mengadakan diskusi, membuat tulisan-tulisan kritis dan disebarluaskan ke mahasiswa, serta masih banyak lagi.

Memahami tujuan berorganisasi sangat penting karena akan menentukan hasil yang akan kita capai dalam berorganisasi. Berorganisasi tanpa sebuah tujuan sama halnya dengan berjalan ditengah hutan belantara, tanpa tau arah, hanya berputar-putar, tersesat, lelah, tanpa memperoleh manfaat sedikit pun. Hanya keberuntungan yang akan mengeluarkan dari hutan belantara. Dan jika sudah keluar pun kita tidak tau akan berbuat apa. Karena tidak memiliki tujuan.

Alasan lain  kita harus paham tujuan organisasi asalah agar tidak terjadi disorientation pada diri kita, dan pada organisasi kita yang akan menyebabkan gagal/ tidak tercapainya tujuan organisasi tersebut. Tidak paham tujuan organisasi juga akan menyebabkan kita seperti zombie, melakukan sesuatu tanpa memikirkannya, tanpa mengetahui, tanpa memahami, hanya bekerja, bekerja dan bekerja saja, tanpa tau esensi dari apa yang dikerjakan.

Memahami tujuan berorganisasi akan menentukan langkah kita kedepan, apa yang akan kita dapatkan dan apa yang akan kita capai dalam berorganisasi. Sehingga kita akan mampu memanfaatkan segala apa kita peroleh dari berorganisasi dan intisari dari semua yang telah kita lakukan.

Nah, agar tidak terkena Unorientation Syndrome, mulai dari sekarang, tentukan tujuan berorganisasi. sekarang juga!

Sedikit wacana mengenai tujuan dalam organisasi ini semoga mampu membuka pemikiran kawan-kawan sehingga tertarik untuk berorganisasi. Karena berorganisasi itu tidak ada ruginya. Paling tidak, jika tidak mampu menjadi seorang pemikir, bisa jadi tambahan untuk mengisi daftar riwayat hidup.

Malang, 27.02.2012

 By: Mis_Canopyers