Ketegasan (?)

Ketegasan adalah suatu sikap dimana seseorang berani menentukan dan memutuskan status suatu persoalan. Ketegasan bukanlah kesewenang-wenangan, melainkan suatu tindakan yang didasari oleh rasionalisasi yang kongkrit dan atau berdasarkan aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Ketegasan juga bisa dibilang sikap independen untuk mencapai suatu tujuan atau keputusan. Sikap tegas dibutuhkan dalam berbagai interaksi, terutama yang menyangkut pengambilan atau pemutusan persoalan. Karena ketegasan ini yang nantinya akan membawa kondisi perihal kedepannya seperti apa. Ketegasan sangat dibutuhkan dalam membangun kredibilitas, kompetensi dan posisi tawar subjek.

Ketegasan ada dua macam: ketegsan rasional dan ketegasan formal.

Ketegasan rasional adalah ketegasan yang tidak memiliki acuan baku. Untuk itu dibutuhkan proses dialektika panjang. Karena ketegasan ini meliputi berbagai ruang lingkup yang dipadukan sehingga menghasilkan suatu kesesuaian dan kesatuan yang holistik. Ada berbagai sudut pandang yang kemudian dikerucutkan dan menghasilkan ketentuan dimana ketentuan itu difungsikan untuk mencapai tujuan tertentu: individu atau kelompok. Pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sangat berpengaruh dalam menentukan sikap tegas disini. Ketegasan ini juga tidak memandang ketentuan-ketentuan formal sebagai bahan acuan yang baku, karena ketegasan rasional menyesuaikan konteks persoalan pada tujuan pengambilan keputusan, baik tujuan individu atau kelompok, sehingga terkadang melawan pandangan umum.

Disini dibutuhkan subjek yang berani melihat pandangan-pandangan baru, yang bisa jadi tidak umum, yang disesuaikan dengan konteks persoalan yang meliputi ruang dan waktu. Melawan pandangan umum tidaklah mudah, karena akan dihadapkan pada hal-hal yang dianggap tabu oleh umum. Keberanian, keluasan, dan kemantapan wacana menjadi syarat penguat ketegasan rasional, karena berkaitan dengan pertarungan dan pembuktian wacana.

Disinilah dibutuhkan sikap independen terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Karena pertarungan wacana dan kepentingan-kepentingan pihak tertentu sangat kental mewarnai pengambilan keputusan. Independensi menjadi sikap yang diharapkan mampu mangakomodir kepentingan bersama.

Ketegasan rasional bukan sikap yang tetap dan kekal. Ketegasan formal menyesuaikan persoalan sesuai dengan zamannya. Selain itu, ketegasan rasional juga digunakan untuk menentukan dan menetapkan tujuan di hari depan dengan melihat pengalaman pada masa lalu. Agar tidak terjadi kesalahan untuk kesekian kalinya akibat suatu aturan yang membatasi ruang gerak dan cara berpikir seseorang.

Hasil dari ketegasan rasional ini merupakan cikal bakal lahirnya ketentuan-ketentuan yang akan berpengaruh terhadap ketegasan formal.

Berbeda denga ketegasan rasional yang bersifat fleksibel, menyesuaikan konteks persoalan pada zamannya, ketegasan formal lebih kaku, baku dan memiliki landasan yang pasti. Seperti Undang-Undang Dasar, norma-norma dan nilai-nilai yang telah terbangun dalam suatu msayarakat atau kelompok. Aturan-aturan itu yang nantinya akan menentukan suatu sikap yang akan diambil. Arahnya jelas dan sangat terlihat. Sehingga dengan mudah orang lain akan mengetahui seseorang itu bersikap tegas atau tidak.

Ketegasan formal ini lahir dari adanya ketentuan, baik tertulis atau yang masih dalam bentuk konvensi. Jika sesorang tersebut ragu mengambil suatu keputusan padahal sudah jelas tertara dalam ketentuan-ketentuan mengenai suatu persoalan, maka, bisa jadi orang tersebut memiliki pandangan lain yang mana dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kepentingan dirinya atau kelompoknya. Misalnya seorang hakim yang sedang memimpin kasus korupsi yang menyangkut kelomponya atau yang mungkin akan melibatkan dirinya, atau mengancam dirinya. Tentu saja hakim tersebut akan berpikir dua kali dalam memutuskan untuk mengamankan posisi dirinya atau kelomponya.

                Lagi-lagi independensi sangat dibutuhkan dalam bersikap tegas. Independen juga bukan suatu ketidakterikatan pada apapun. Independen justru harus memiliki sandaran. Independen disini adalah kondisi yang melihat sesuatu dari sudut pandang lain diluar objek yang sedang dihadapi namun masih dalam konteks sama. Seperti pada kasus hakim di atas. Hakim tersebut harus independen, dalam arti tidak mengikatkan dirinya pada persoalan korupsi (objek) tersebut. Hakim itu harus independen terhadap koruptor, bebas dari segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus korupsi. Namun, tetap memiliki sandaan yang jelas dalam menyelesaikan persoalan tersebut dimana sandaran itu tidak lain adalah keadilan dalam hukum pidana. Dengan demikian hakim tersebut bisa bersikap tegas dalam menyelesaikan perkara korupsi tersebut.

                Cukup sulit memang membedakan subjek dikatakan tegas atau tidak, apalagi menyangkut persoalan yang membutuhkan rasionalisasi atu belum memiliki landasan hukumnya. Tentunya akan membutuhkan proses pemikiran yang panjang dan mendalam. Bukan berarti tidak tegas, melainkan banyak pertimbangan yang harus dipikirkan menyengkut nasib kedepannya. Berbeda dengan persoalan yang memang sudah jelas memiliki landasan hukum formal, akan sangat mudah untuk melihat subjek bertindak tegas atau tidak.

                Untuk itu, dalam menilai subjek bertindak tegas atau tidak, dibutuhkan suatu analisis yang mendalam terkait pada konteks persolan yang sedang dihadapi dan hal-hal lain yang menyertainya. Tidak bisa hanya dilihat dari kecenderungan subjek itu saja. Karena ketegasan bukan sekedar sikap keras, berani dan teguh. Jauh dari itu, ketegasan adalah sikap kongkrit yang memiliki landasan dan rasionalitas yang tajam serta memiliki keberpihakan.

Malang, 01.03.12

Mis_Canopyers