Kartini, Wanita Indonesia dan Kemerdekaan

Kartini, satu tokoh epic dan tokoh tragic sekaligus. Dalam pelbagai segi ia memenuhi syarat untuk itu: perempuan rupawan, cerdas, perseptif pemberontak tapi juga anak bupati Jawa, penuh cita-cita pengabdian tapi juga lemah hati, dan sementara itu terpojok, kecewa, terikat, dan akhirnya meninggal dalam usia 24 tahun.

Kartini adalah putri dari bupati Jepara, ia juga keturunan dari Bupati Demak, Pangeran Ario Tjondronegoro, yang  terkenal karena beliaulah Bupati  yang mendidik anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan dengan pelajaran Barat. Meskipun demikian, Kartini tak pernah ingin dipandang sebagai seorang bangsawan,

“Panggil aku Kartini saja, itu namaku. Kami orang Jawa tidak punya nama keluarga. Kartini adalah sekaligus nama dan nama kecilku, dan “Raden Ajeng”, dua kata ini menunjukkan gelar. Ketika aku memberikan alamatku… tentu aku tidak bisa hanya menulis Kartini bukan? Hal ini pasti akan dianggap aneh di Belanda, sedang untuk menulis jeffrouw (nona) atau sejenisnya  di depan namaku, wah, aku tidak berhak untuk itu – aku hanyalah orang Jawa” (25 Mei 1899)

Pada masa kecilnya Kartini merasa bebas, tetapi pada waktu berumur dua belas tahun tiba-tiba dia dipaksa dipingit. Orang tua kartini memegang adat memingit dengan teguh, meskipun dalam hal lain sudah maju. Empat tahun lamanya Kartini tidak diizinkan keluar-keluar.

Pejuang wanita Indonesia ini menghadirkan jutaan pikiran-pikiran yang membawa gadis pribumi pada masa itu menuju pada sebuah kemerdekaan, kebebasan dalam pemberontakan yang halus. Emosinya karena keberadaannya yang terkurung dalam rumah dengan empat lapis tembok, menjadikan motivasi utamanya untuk bergerak, ingin bebas dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para lelaki.

Kartini memberikan semangat kepada banyak gadis pada masa itu, pemikirannya yang merujuk pada satu tujuan, yaitu kebebasan, tertuang pada surat-surat untuk sahabatnya Stella Zeehandelaar. Pada suratnya untuk Stella tanggal 18 Agustus 1899 Kartini menulis:

Aku juga musuh formalitas. Apa peduliku soal peraturan-peraturan adat? Aku gembira sekali akhirnya dapat mengoyak peraturan adat Jawa yang konyol itu saat berbincang denganm dalam tulisanku ini. Adat peraturan ini dibuat oleh Manusia, bagiku itu menjijikan. Kau tidak bisa bayangkan bagaimana indu ketika peraturan-peraturan ini ada dalam lingkaran bangsawan Jawa. Kamu tidak bisa bergerak sedikitpun atau perepiuan sadis itu akan memandangmu dengan sinis! Di antara kami bertiga tidak terlalu memperhatikan formalitas itu. Kami puja semboyan mulia ini: Kebebasan adalah Kebahagiaan

Dari surat Kartini tersebut, nampak betapa penatnya ia terhadap aturan-aturan yang ada di sekelilingnya. Cita-citanya adalah kebebasan, baginya bisa bebas dari segala aturan yang mengikat, khususnya bagi perempuan pribumi pada masa itu adalah suatu kebahagiaan yang besar. Pada masa itu, aturan adat jawa sangatlah kaku, dimana seorang adik tidak boleh lewat di depan kakak atau orang yang lebih tua tanpa berjongkok. Jika kakak atau orang yang lebih tua lewat, sedangkan yang lebih muda sedang duduk di kursi, maka ia harus segera turun di tanah dan menundukkan kepalanya. Tidak boleh ada sapaan “kamu” atau “kau” melainkan harus dengan kromo inggil, dan setelah selesai bicara, mereka harus mengakhirinya dengan sembah.

Katidaksukaan terhadap aturan yang terlalu kaku juga dilakukan Kartini dalam hal pekerjaan. Pada masa itu seorang wanita tidak diizinkan bekerja, wanita hanya memiliki tiga tugas utama yaitu “macak, masak, manak (bersolek, memasak, dan melahirkan)”.  Kartini sangat tidak setuju dengan pemikiran ini, dia adalah wanita yang maju, dia berkeyakinan bahwa wanita pribumi pada dasarnya cerdas, maka tak pantas bagi wanita pribumi untuk hanya diam di rumah. Wanita juga punya hak untuk bekerja sesuai dengan cita-citanya. Keluh kesahnya ini pun tertuang dalam suratnya untuk Stella pada tanggal 6 November 1899

“Jika aku memilih pekerjaan haruslah sesuai dengan keinginanku!!Untuk bekerja sesuai dengan cita-cita yang tidak mendatangkan aib bagi keluarga ningratku sata ini juah dari gapaian kami, karena untuk bisa begitu kami harus tinggal di Barat dan itu mustahil. Kami berangan-angan terlalu tinggi sehingga kami menerima kekecewaan. Mengapa Tuhan memberi kita bakat-bakat jika tidak diberi alat untuk mengembangkannya?”

Untuk bisa bekerja pada masa itu, wanita harus mendapatkan izin dari Menteri keuangan, namun izin tersebut sangat sulit untuk di dapatkan. Untuk dapat bekerja, wanita harus bisa maju dengan usaha sendiri. Keinginannya untuk mencapai kebebasan sangatlah besar. Kartini berteriak dalam surat-suratnya kepada Stella:

“ ‘Barang siapa tidak berani, tidak akan mendapat apa-apa’ adalah semboyanku. Majuterus! Terjang tak gentar dan berani menghadapinya! Tiga perempat dunia akan menjadi milik sang pemberani”

Keberanian dan perjuangan Kartini ini berbuah manis, mulai tahun 1900-an emansipasi di Indonesia mulai berkibar. Wanita peribumi sudah ada yang boleh mengenyam bangku pendidikan meskipun hanya untuk keturunan bangsawan.

Cita-cita hidupnya adalah untuk mengangkat kehidupan perempuan Jawa, itu berarti, untuk seluruh rakyat Jawa. Dengan kedua adiknya Kardinah dan Roekmini dia ingin mewujudkan cita-citanya. Saat Kardinah menikah pada Januari 1902, dia meneruskan perjuangannya dengan Roekmini.

Kartini menikah pada bulan Oktober 1903, dia pindah ke Rembang dan terus belajar dan mengembangkan ide-idenya. Kartini hendak mendirikan sekolah bagi pribumi lagi disana. Pada tanggal 13 September 1904 Kartini dikaruniai seorang anak laki-laki, namun usianya tak cukup panjang, pada tanggal 17 September 1904 Kartini meninggal dunia. Memendam jutaan cita-cita yang belum sepenuhnya terwujud. Namanya akan selalu dikenang oleh rakyat Indonesia, khususnya kaum wanita, Dia adalah ibu yang memproklamirkan emansipasi wanita, hingga wanita Indonesia dapat berdikari seperti sekarang.

 -99-